Perjuangan di Balik Lahirnya Buku Merah Putih di Atap Dunia

Bandung – Merah Putih di Atap Dunia, merupakan judul buku yang membutuhkan waktu penyusunan selama 10 tahun. Buku ini merupakan kumpulan cerita tentang ekspedisi anggota Wanadri yang telah mendaki tujuh gunung (seven summit).

Buku yang memakan waktu penyusunan bertahun-tahun diluncurkan perdana pada Kamis (11/5/2023) di Gedung Indonesia Menggugat. Peluncuran buku itu dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

“Bangsa ini memiliki kekurangan salah satunya tradisi mempublikasi. Produksi buku di Jepang yang jumlah masyarakatnya hanya 125,7 juta jiwa memiliki produktivitas publikasi 10x lipat karena isu yang receh juga layak untuk di publikasi dan menulis harus kita sempurnakan,” kata Ridwan Kamil.

Setelah itu Ridwan Kamil juga meminta berbagai pihak memberi inspirasi yang bisa bermanfaat untuk masyarakat di sosial media dengan tujuan untuk menyemangati juga memberi manfaat dengan inspirasi.

Ketua Wanadri Endriartono mengungkapkan, bukan tanpa sebab peluncuran buku dengan judul ‘Merah Putih di Atap Dunia’ digelar dengan sedikit meraih. Pasalnya dalam prosesnya penyusunan buku memiliki cerita yang panjang dan inspiratif hingga merupakan prestasi yang patut dibanggakan.

Cerita ekspedisi yang tertuang dalam buku ini merupakan ekspedisi dari tiga matra yaitu Udara, Laut dan Darat. Matra udara itu adalah ekspedisi yang dilakukan dari Sabang sampai Merauke oleh salah satu anggota Wanadri bernama Saleh Sudrajat atau Usol (alm), yang terbang sendiri dalam kurun waktu 40 hari dituangkan dalam buku yang berjudul Menggapai Angkasa Nusantara dengan menjelajahi 29 pulau terdepan Indonesia.

“Waktu itu sempat dibilang ekspedisi yang mustahil karena terbang sendirian. Itu keputusan beliau sendiri karena biasanya jika terbang ada pendamping nya,” jelas Aat Soeratin sebagai anggota kehormatan Wanadri.

Selanjutnya Matra darat penjelajahan pendakian ke 7 puncak gunung tertinggi di 7 benua. Pendakian itu dilaksanakan selama hampir 5 tahun karena memiliki kendala, dimulai dari para pemuda yang hidup di daerah tropis dan tidak pernah mengalami kondisi salju tapi bisa bertahan di cuaca ekstrem, disebut juga sebagai ekspedisi mustahil karena memiliki target harus punya pendaki tujuh puncak gunung tertinggi di benua. Akhirnya dinamakan seven summit.

Terakhir matra laut. 21 orang orang ikut melakukan ekspedisi ke 92 pulau dalam kurun waktu 3 tahun menggunakan perahu, hingga lahirlah buku tepian tanah air tiga buku barat,tengah dan timur.

Dengan ekspedisi yang dilakukan para pemuda bermodalkan kedisiplinan dan latihan yang keras bisa membuktikan bahwa pemuda Indonesia tahan uji tahan cengeng dan bisa menanggulangi masalah walaupun berada di situasi yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Mendapat predikat seven summit di Asia dan bisa mengimbangi Negara Jepang, Korea dan Cina. Wanadri berhasil mematahkan stigma terhadap orang Indonesia yang loyo dan negara terbelakang. Dengan peluncuran buku ekspedisi ini diharapkan bisa mengacu semangat untuk melakukan ekspedisi lainnya.

Dari sisi penulis Donny Rahmansyah dan Maria Jeanindya membutuhkan waktu 10 tahun lamanya untuk mencari sudut pandang yang tepat terhadap penulisan buku-buku tersebut. selain tertulis keberhasilan ekspedisi dalam buku ini terdapat bagaimana proses anggota Wanadri mencari solusi dalam setiap permasalahan.

“Kita memutuskan bahwa buku ini sebagai monumen kebersamaan bukan hanya sukses story tapi juga terdapat kegagalan dalam perjalanannya,” ucap Donny Rahmansyah.

Disusun dengan sungguh-sungguh buku ini memberikan petunjuk bagaimana sebagai anak muda Indonesia bekerjasama dengan berbagai dukungan bisa menyelesaikan tugasnya. Walaupun buku ini pernah hampir terhenti dan gagal dalam proses penyusunannya karena terkendala dana tetapi berhasil berlanjut dan akhirnya bisa rilis setelah penantian panjang.

Sumber: Detikjabar.id
Leave a Reply

Your email address will not be published.